Pendahuluan
Drs. Minardi Mursyid, pimpinan Yayasan Tauhid Indonesia (Yatain) menulis sebuah makalah berjudul “Masyarakat Manusia di Planet Luar Bumi” di sebuah situs. Sebuah makalah yang mencoba membuktikan bahwa di planet luar bumi terdapat manusia seperti kita.
Drs. Minardi Mursyid, pimpinan Yayasan Tauhid Indonesia (Yatain) menulis sebuah makalah berjudul “Masyarakat Manusia di Planet Luar Bumi” di sebuah situs. Sebuah makalah yang mencoba membuktikan bahwa di planet luar bumi terdapat manusia seperti kita.
Sebelum kita lebih jauh membahas kesesatan
makalah ini ada baiknya saya uraikan sedikit tentang Yatain ini. Yatain
adalah sebuah yayasan yang kegiatan intinya adalah mengadakan
pengajian-pengajian rutin di berbagai daerah di Solo dan sekitarnya.
Secara pintas pengajian ini memang menarik karena dikemas dengan sajian
teknologi tinggi. Seperti penggunaan laptop, handycam, LCD proyektor dan
wall screen. Sebuah kemasan yang sangat jarang-jarang ditemukan di
forum-forum pengajian di Solo.
Setiap pengajian dilaksanakan pasti direkam dan kemudian di-burn dalam CD dan dibagikan secara gratis kepada jama'ah pengajian. Sebuah kemasan pengajian yang tidak pernah dilakukan oleh siapapun, bahkan di perkuliahan magister sekalipun. Sebagaimana kita lihat dimana-mana lazimnya pengajian pasti berisi ceramah murni. Kalaupun ada yang memakai bantuan LCD pasti hanyalah beberapa. Itupun biasanya pengajian khusus yang diikuti oleh orang-orang khusus juga.
Dakwah Yatain ternyata tidak hanya terbatas pada
pengadaan pengajian rutin di beberapa daerah. Mereka juga berani
membeli jam siar di MQ FM Solo meskipun dengan harga yang tidak murah.
Akan tetapi siaran itu hanya berjalan dua kali karena mendapatkan
pertentangan dari MUI Solo dengan alasan menyebarkan ajaran yang
meresahkan masyarakat.
Bukti Kesesatan
Sebenarnya mudah saja untuk membuktikan bahwa ajaran Mbah Min adalah sesat. Jika kita baca makalah tersebut dari awal sampai akhir maka tidak satupun kita menemukan kutipan hadits di sana. Akan tetapi jika makalah ini dibaca oleh orang awam memang bisa menyesatkan karena ia mengemasnya dengan bumbu logika. Meski makalah tersebut berjumlah 25 halaman (58.025 karakter), tetapi semuanya memakai ayat-ayat al-Qur'an sebagai dalil.
Bukti Kesesatan
Sebenarnya mudah saja untuk membuktikan bahwa ajaran Mbah Min adalah sesat. Jika kita baca makalah tersebut dari awal sampai akhir maka tidak satupun kita menemukan kutipan hadits di sana. Akan tetapi jika makalah ini dibaca oleh orang awam memang bisa menyesatkan karena ia mengemasnya dengan bumbu logika. Meski makalah tersebut berjumlah 25 halaman (58.025 karakter), tetapi semuanya memakai ayat-ayat al-Qur'an sebagai dalil.
Makalah tersebut diawali dengan cercaan mbah Min
atas kelambatan umat Islam dalam merespon setiap perkembangan
teknologi. Umat Islam banyak yang hanya jadi penonton atas perkembangan
teknologi yang ada. Tampak jelas di makalah tersebut (dan juga dalam
ceramah-ceramahnya) mbah Min menyesalkan umat Islam yang masih saja
menyitir ucapan Imam al-Bukhari dan ulama-ulama “kuno” lainnya karena
kehidupan mereka jauh setelah Nabi meninggal.
Ia ingin mengajak umat Islam untuk memakai akal
pikirannya sendiri dan tidak terpengaruh oleh doktrin-doktrin lama. Ia
mengatakan:
”Sebenarnya sejak 15 abad yang lalu Al Qur’an
telah menerangkan berbagai persoalan yang ada di jagad raya ini, cuma
masalahnya sistem pendidikan yang selama ini diajarkan hanyalah berupa
hafalan-hafalan sehingga pada umumnya anak didik kita banyak yang tidak
bisa memahami tentang sesuatu. Seringkali orang dipaksa untuk percaya
begitu saja secara taklid buta walaupun kadang-kadang keterangan yang
disampaikan tidak sejalan dengan pemikiran secara wajar. Ironisnya para
Sarjana kitapun masih banyak yang kurang kritis dan teliti, bahkan
mereka juga mengikuti pemahaman ratusan atau bahkan ribuan tahun yang
lalu, sehingga posisi kita sering selalu ketinggalan, terutama dalam hal
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.”
Makalah tersebut diawali dengan pembahasan
tentang dunia, sama'/samawat dan dabbah. Kesesatan pertama langsung
tampak pada saat ia membahas tentang dunia. Ia menyitir al-Qur'an surat
al-Mulk (67): 5 sebagai berikut:
“Sesungguhnya kami telah menghiasi langit
yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu
alat pelempar setan. Dan Kami sediakan mereka siksa Neraka yang
menyela-nyala”
Inilah yang aneh, meski mbah Min menampilkan
terjemahan dari tiga versi yakni dari Departemen Agama, Lembaga
Percetakan Al Qur’an Raja Fahd di Madinah al Munawarah, dan terjemahan
Prof. Mahmud Yunus, tetapi mbah Min menolak ketiga model terjemahan
tersebut. Ia dengan sombongnya menerjemahkan sendiri ayat tersebut
dengan akalnya.
Berikut terjemahan versi mbah Min:
“Dan sungguh Kami hiasi ANGKASA DUNIA =
angkasanya semesta raya (langitnya semesta raya ini) dengan
bintang-bintang (pelita-pelita) dan Kami jadikan dia (bintang-bintang
itu) ancaman (rujuman) bagi setan-setan. Dan kami sediakan atas mereka
siksa yang membakar”. (p.4)3
Selanjutnya mbah Min mengatakan: “Jika “sama’a dunya” diartikan dengan “langit yang dekat dengan Bumi” atau “langit yang hampir ke dunia” maka langit manakah yang jauh dari dunia, atau bahkan pengertian dunia seolah-olah hanyalah Bumi ini. Maka semestinya dia harus diartikan “angkasa dunia”, dia adalah angkasanya atau langitnya semesta raya ini dan bukan hanya langitnya Bumi.” (p.5)
Mbak Min ingin menegaskan bahwa langit yang ada
adalah langitnya semesta alam, bukan hanya langitnya bumi. Di bagian
lain mbah Min memahami bahwa langit yang dimaksud adalah seperti
“longan” (kolong di bawah ranjang) yang tidak pernah diciptakan. Ia ada
dengan sendirinya karena adanya bumi, sebagaimana longan yang ada karena
adanya ranjang. Begitu bumi hilang, maka langit pun hilang. Sebagaimana
jika ranjang hilang, maka hilanglah longan.
Barangkali mbah Min belum pernah membaca surat al-Baqarah (2): 29 bahwa langit itu diciptakan oleh Alloh.
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي اْلأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dia-lah Allah, yang
menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak
(menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha
Mengetahui segala sesuatu." (Q.S. Al-Baqarah (2): 29).
Atau ayat sebelumnya yang menyatakan bahwa langit itu dijadikan Alloh sebagai atap bagi manusia.
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اْلأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلاَ تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dialah yang
menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia
menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan
itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu
mengadakan sekutu-sekutu bagi Alloh, padahal kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah (2): 22).
Dari ayat ini jelaslah bahwa langit bukanlah
longan sebagaimana kata mbah Min. Bagaimana mungkin longan bisa menjadi
atap? Apalagi bisa mengeluarkan air hujan? Dan di ayat lain dijelaskan
pula bahwa langit pun bisa pecah saat Hari Kiamat datang (77:9; 82:1;
84:1). Langit pun mempunyai pintu-pintu (78:19). Jika langit dikatakan
seperti longan, bagaimana mungkin ia bisa terbelah, apalagi mempunyai
pintu?
Mbah Min juga mempertanyakan arti “rujuman lis
syayâthin” yang diartikan sebagai pelempar syetan. Mbah Min
mengartikannya sebagai ancaman bagi para syetan, bukan sebagai alat
pelempar. Dengan kebodohannya ia mengatakan:
“Kapan Allah pernah melempar setan dengan
bintang yang sangat besar itu? Padahal keadaan bintang itu sama dengan
Surya (Matahari) kita, maka setan mana yang dilempar dengan benda
sebesar itu.” (p.6)
Tampak jelas bahwa ia sama sekali tidak mendahulukan iman daripada logika. Mestinya iman tidak boleh dikalahkan oleh logika. Sebagaimana peristiwa Isra' Mi'raj Nabi yang dipertanyakan oleh Mbah Min dan orang-orang Inkarus Sunnah kebanyakan. Kita mestinya mencontoh sikap sahabat Abu Bakar r.a yang dengan lantang mengatakan:
“Kalau itu (peristiwa Isra' Mi'raj) yang mengatakan adalah Nabi, maka saya pasti percaya”
Dengan sikapnya itulah maka tidak berlebihan
jika Rasulullah memberinya gelar ash-Shiddieq. Karena Abu Bakar telah
mendahulukan imannya daripada akalnya. Meskipun barangkali akalnya tidak
bisa mencerna peristiwa Isra' Mi'raj, tapi beliau tetap beriman dengan
peristiwa itu, sebab Nabi tidak pernah berbohong. Bagaimana mungkin
seseorang yang selama 40 tahun saja tidak pernah berbohong kepada
manusia, kemudian ia berbohong atas nama Alloh?
Penafsiran rujuman lis syayatin sebagai pelempar
syetan sudah menjadi kesepakatan ulama. Di dalam tafsir at-Thabary
dijelaskan bahwa fungsi bintang itu ada tiga: sebagai penghias langit,
sebagai pelempar syetan, dan sebagai alat untuk penanda arah. Di dalam
surat al-Jin (72):8 juga dijelaskan tentang penggunaan bintang sebagai
pelempar syetan. Yakni para syetan yang mencoba mencuri informasi dari
langit.
وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا (8) وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ اْلآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا
“Dan sesungguhnya
kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya
penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya
kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk
mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang
(mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah
api yang mengintai (untuk membakarnya).” (Q.S. Jin (72): 8-9
Jadi jelaslah sudah bahwa selain sebagai hiasan dan alat penanda arah mata angin, bintang juga berfungsi sebagai alat untuk melempar para syetan yang mencoba mencuri informasi dari langit. Apa yang dikatakan oleh mbah Min adalah pengawuran yang luarbiasa.
Jadi jelaslah sudah bahwa selain sebagai hiasan dan alat penanda arah mata angin, bintang juga berfungsi sebagai alat untuk melempar para syetan yang mencoba mencuri informasi dari langit. Apa yang dikatakan oleh mbah Min adalah pengawuran yang luarbiasa.
***
Pembahasan kedua yang dilakukan oleh mbah Min
adalah tentang sama'/samawat. Dalam pembahasan ini kembali mbah Min
mengutarakan tafsiran ngawurnya. Dia menerjemahkan lafal sama' dengan
seenak perutnya sendiri. Terkadang sama' diartikan sebagai atmosfir,
terkadang diartikan sebagai tata surya, terkadang diartikan
planet-planet, dan terkadang diartikan sebagai langit. (p. 9).
Penafsiran yang tidak konsisten tentang lafal
sama'/samawat ini terjadi karena sejak awal mbah Min sudah tidak percaya
dengan langit. Seperti yang saya utarakan di depan bahwa langit menurut
mbah Min adalah “longan” yang meliputi setiap planet yang ada. Dimana
ada planet maka di situ juga ada langit. Sehingga untuk mendukung
argumennya ini ia memaksakan tafsiran sama'/samawat dengan berbagai
arti.
Lebih lanjut mbah Min juga tidak percaya akan
adanya langit lapis tujuh. Kalau memang langit lapis tujuh itu ada,
mengapa sampai sekarang belum juga ditemukan? Begitu argumen yang ia
utarakan.
Yang lebih lucu lagi adalah ketika mbah Min
mengartikan Q.S. Nuh (71):16 . tampak sekali bahwa mbah Min ini memang
tidak paham tata bahasa Arab, sehingga ia keliru dalam mengartikan lafal
fihinna. Kata fihinna adalah dlomir yang kembali kepada samawat, tetapi
oleh mbah Min diartikan sebagai bulan-bulan. Perhatikan uraian
ngawurnya berikut:
“Kalau kita perhatikan pada Surat Nuh (71)
ayat 15 dinyatakan bahwa Allah telah menciptakan tujuh Samawat itu
bertingkat-tingkat. Memang keadaan planet-planet itu bertingkat-tingkat
menurut garis orbitnya masing-masing. Kemudian pada ayat 16 dinyatakan
DIA jadikan BULAN-BULAN padanya (fiihinna) berarti Bulannya banyak,
padahal Bulan yang ada di Bumi ini hanyalah satu. Maka Bulan yang lain
adalah Bulan dari masing-masing planet itu, karena tidak mungkin langit
memiliki Bulan atau dikitari Bulan, karena itu yang dikitari Bulan
pastilah planet-planet itu” (p.11).
Mbah Min juga mempertanyakan tafsiran Q.S. An-Naba' (78): 12 bahwa Alloh menciptakan tujuh yang kokoh. Menurut mbah Min, jelaslah sudah bahwa yang dimaksud tujuh yang kokoh bukanlah langit, melainkan planet seperti bumi ini. Sedangkan langit tidak mungkin kokoh.
Padahal al-Qur'an sendiri menjelaskan bahwa Alloh menciptakan langit tanpa tiang. Perhatikan ayat berikut:
“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik”. (Q.S. Luqman (31): 10).
***
Pembahasan berikutnya yang dilakukan oleh mbah Min adalah tentang dabbah. Menurut mbah Min penafsiran dabbah dengan binatang melata adalah salah. Menurutnya dabbah tidak hanya sekedar binatang, tetapi juga manusia. Dia mempertanyakan penerjemahan yang dilakukan oleh Departemen Agama pada surat asy-Syuro (42): 29 sebagai berikut:
“Dan diantara Ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan)Nya ialah menciptakan langit dan Bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang DIA sebarkan pada keduanya. Dan DIA maha kuasa mengumpulkan apabila dikehendakiNYA.”
Menurut mbah Min ayat tesebut sebaiknya berarti:
“Dan dari Ayat-ayatNya ialah penciptaan Samawat (planet-planet) dan Bumi, serta yang DIA kembang biakkan pada keduanya (Samawat dan Bumi) dari dabbah (makhluk berjiwa) dan DIA atas pengumpulan ketika DIA kehendaki adalah menentukan.” (p. 14).
Memang kalau kita baca tafsir Ibnu Katsir, maka arti dabbah itu meliputi malaikat, manusia, jin, dan hewan-hewan. Dalam hal ini mbah Min ada benarnya, tetapi tidak mutlak. Karena ia masih beranggapan bahwa bagaimana mungkin dabbah bisa hidup di langit? Kalau dabbah hidup di planet pasti bisa. Padahal ayat tersebut menyebutkan langit dan bumi. Jadi tidak hanya menyebutkan langit saja. Sudah pasti yang hidup di langit adalah para malaikat dan yang hidup di bumi adalah manusia, jin dan binatang melata.
Penutup
Demikianlah, kalau dari awal sudah salah dalam memaknai, maka sampai kapanpun akan salah. Atau memang sengaja diarahkan ke arah yang salah? Wallahu a'lam.
Maraji' : Gurugo.blogspot.com


0 komentar:
Posting Komentar