Pages

Selasa, 14 Agustus 2012

MENCARI BUKTI KESESATAN PEMIKIRAN MINARDI MURSYID


 
 
 
 
 
 
 
 
Pendahuluan
Drs. Minardi Mursyid, pimpinan Yayasan Tauhid Indonesia (Yatain) menulis sebuah makalah berjudul “Masyarakat Manusia di Planet Luar Bumi” di sebuah situs. Sebuah makalah yang mencoba membuktikan bahwa di planet luar bumi terdapat manusia seperti kita.
Sebelum kita lebih jauh membahas kesesatan makalah ini ada baiknya saya uraikan sedikit tentang Yatain ini. Yatain adalah sebuah yayasan yang kegiatan intinya adalah mengadakan pengajian-pengajian rutin di berbagai daerah di Solo dan sekitarnya. Secara pintas pengajian ini memang menarik karena dikemas dengan sajian teknologi tinggi. Seperti penggunaan laptop, handycam, LCD proyektor dan wall screen. Sebuah kemasan yang sangat jarang-jarang ditemukan di forum-forum pengajian di Solo.

Setiap pengajian dilaksanakan pasti direkam dan kemudian di-burn dalam CD dan dibagikan secara gratis kepada jama'ah pengajian. Sebuah kemasan pengajian yang tidak pernah dilakukan oleh siapapun, bahkan di perkuliahan magister sekalipun. Sebagaimana kita lihat dimana-mana lazimnya pengajian pasti berisi ceramah murni. Kalaupun ada yang memakai bantuan LCD pasti hanyalah beberapa. Itupun biasanya pengajian khusus yang diikuti oleh orang-orang khusus juga.

Dakwah Yatain ternyata tidak hanya terbatas pada pengadaan pengajian rutin di beberapa daerah. Mereka juga berani membeli jam siar di MQ FM Solo meskipun dengan harga yang tidak murah. Akan tetapi siaran itu hanya berjalan dua kali karena mendapatkan pertentangan dari MUI Solo dengan alasan menyebarkan ajaran yang meresahkan masyarakat.

Bukti Kesesatan
Sebenarnya mudah saja untuk membuktikan bahwa ajaran Mbah Min adalah sesat. Jika kita baca makalah tersebut dari awal sampai akhir maka tidak satupun kita menemukan kutipan hadits di sana. Akan tetapi jika makalah ini dibaca oleh orang awam memang bisa menyesatkan karena ia mengemasnya dengan bumbu logika. Meski makalah tersebut berjumlah 25 halaman (58.025 karakter), tetapi semuanya memakai ayat-ayat al-Qur'an sebagai dalil.
Makalah tersebut diawali dengan cercaan mbah Min atas kelambatan umat Islam dalam merespon setiap perkembangan teknologi. Umat Islam banyak yang hanya jadi penonton atas perkembangan teknologi yang ada. Tampak jelas di makalah tersebut (dan juga dalam ceramah-ceramahnya) mbah Min menyesalkan umat Islam yang masih saja menyitir ucapan Imam al-Bukhari dan ulama-ulama “kuno” lainnya karena kehidupan mereka jauh setelah Nabi meninggal.
Ia ingin mengajak umat Islam untuk memakai akal pikirannya sendiri dan tidak terpengaruh oleh doktrin-doktrin lama. Ia mengatakan:
”Sebenarnya sejak 15 abad yang lalu Al Qur’an telah menerangkan berbagai persoalan yang ada di jagad raya ini, cuma masalahnya sistem pendidikan yang selama ini diajarkan hanyalah berupa hafalan-hafalan sehingga pada umumnya anak didik kita banyak yang tidak bisa memahami tentang sesuatu. Seringkali orang dipaksa untuk percaya begitu saja secara taklid buta walaupun kadang-kadang keterangan yang disampaikan tidak sejalan dengan pemikiran secara wajar. Ironisnya para Sarjana kitapun masih banyak yang kurang kritis dan teliti, bahkan mereka juga mengikuti pemahaman ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu, sehingga posisi kita sering selalu ketinggalan, terutama dalam hal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.”
Makalah tersebut diawali dengan pembahasan tentang dunia, sama'/samawat dan dabbah. Kesesatan pertama langsung tampak pada saat ia membahas tentang dunia. Ia menyitir al-Qur'an surat al-Mulk (67): 5 sebagai berikut:
“Sesungguhnya kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat pelempar setan. Dan Kami sediakan mereka siksa Neraka yang menyela-nyala”
Inilah yang aneh, meski mbah Min menampilkan terjemahan dari tiga versi yakni dari Departemen Agama, Lembaga Percetakan Al Qur’an Raja Fahd di Madinah al Munawarah, dan terjemahan Prof. Mahmud Yunus, tetapi mbah Min menolak ketiga model terjemahan tersebut. Ia dengan sombongnya menerjemahkan sendiri ayat tersebut dengan akalnya.
Berikut terjemahan versi mbah Min:
“Dan sungguh Kami hiasi ANGKASA DUNIA = angkasanya semesta raya (langitnya semesta raya ini) dengan bintang-bintang (pelita-pelita) dan Kami jadikan dia (bintang-bintang itu) ancaman (rujuman) bagi setan-setan. Dan kami sediakan atas mereka siksa yang membakar”. (p.4)3

Selanjutnya mbah Min mengatakan: “Jika “sama’a dunya” diartikan dengan “langit yang dekat dengan Bumi” atau “langit yang hampir ke dunia” maka langit manakah yang jauh dari dunia, atau bahkan pengertian dunia seolah-olah hanyalah Bumi ini. Maka semestinya dia harus diartikan “angkasa dunia”, dia adalah angkasanya atau langitnya semesta raya ini dan bukan hanya langitnya Bumi.” (p.5)
Mbak Min ingin menegaskan bahwa langit yang ada adalah langitnya semesta alam, bukan hanya langitnya bumi. Di bagian lain mbah Min memahami bahwa langit yang dimaksud adalah seperti “longan” (kolong di bawah ranjang) yang tidak pernah diciptakan. Ia ada dengan sendirinya karena adanya bumi, sebagaimana longan yang ada karena adanya ranjang. Begitu bumi hilang, maka langit pun hilang. Sebagaimana jika ranjang hilang, maka hilanglah longan.
Barangkali mbah Min belum pernah membaca surat al-Baqarah (2): 29 bahwa langit itu diciptakan oleh Alloh.

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي اْلأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Q.S. Al-Baqarah (2): 29).
Atau ayat sebelumnya yang menyatakan bahwa langit itu dijadikan Alloh sebagai atap bagi manusia.

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اْلأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلاَ تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Alloh, padahal kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah (2): 22).
Dari ayat ini jelaslah bahwa langit bukanlah longan sebagaimana kata mbah Min. Bagaimana mungkin longan bisa menjadi atap? Apalagi bisa mengeluarkan air hujan? Dan di ayat lain dijelaskan pula bahwa langit pun bisa pecah saat Hari Kiamat datang (77:9; 82:1; 84:1). Langit pun mempunyai pintu-pintu (78:19). Jika langit dikatakan seperti longan, bagaimana mungkin ia bisa terbelah, apalagi mempunyai pintu?
Mbah Min juga mempertanyakan arti “rujuman lis syayâthin” yang diartikan sebagai pelempar syetan. Mbah Min mengartikannya sebagai ancaman bagi para syetan, bukan sebagai alat pelempar. Dengan kebodohannya ia mengatakan:
“Kapan Allah pernah melempar setan dengan bintang yang sangat besar itu? Padahal keadaan bintang itu sama dengan Surya (Matahari) kita, maka setan mana yang dilempar dengan benda sebesar itu.” (p.6)

Tampak jelas bahwa ia sama sekali tidak mendahulukan iman daripada logika. Mestinya iman tidak boleh dikalahkan oleh logika. Sebagaimana peristiwa Isra' Mi'raj Nabi yang dipertanyakan oleh Mbah Min dan orang-orang Inkarus Sunnah kebanyakan. Kita mestinya mencontoh sikap sahabat Abu Bakar r.a yang dengan lantang mengatakan:
“Kalau itu (peristiwa Isra' Mi'raj) yang mengatakan adalah Nabi, maka saya pasti percaya”
Dengan sikapnya itulah maka tidak berlebihan jika Rasulullah memberinya gelar ash-Shiddieq. Karena Abu Bakar telah mendahulukan imannya daripada akalnya. Meskipun barangkali akalnya tidak bisa mencerna peristiwa Isra' Mi'raj, tapi beliau tetap beriman dengan peristiwa itu, sebab Nabi tidak pernah berbohong. Bagaimana mungkin seseorang yang selama 40 tahun saja tidak pernah berbohong kepada manusia, kemudian ia berbohong atas nama Alloh?
Penafsiran rujuman lis syayatin sebagai pelempar syetan sudah menjadi kesepakatan ulama. Di dalam tafsir at-Thabary dijelaskan bahwa fungsi bintang itu ada tiga: sebagai penghias langit, sebagai pelempar syetan, dan sebagai alat untuk penanda arah. Di dalam surat al-Jin (72):8 juga dijelaskan tentang penggunaan bintang sebagai pelempar syetan. Yakni para syetan yang mencoba mencuri informasi dari langit.

وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا (8) وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ اْلآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا
“Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (Q.S. Jin (72): 8-9

Jadi jelaslah sudah bahwa selain sebagai hiasan dan alat penanda arah mata angin, bintang juga berfungsi sebagai alat untuk melempar para syetan yang mencoba mencuri informasi dari langit. Apa yang dikatakan oleh mbah Min adalah pengawuran yang luarbiasa.

***
Pembahasan kedua yang dilakukan oleh mbah Min adalah tentang sama'/samawat. Dalam pembahasan ini kembali mbah Min mengutarakan tafsiran ngawurnya. Dia menerjemahkan lafal sama' dengan seenak perutnya sendiri. Terkadang sama' diartikan sebagai atmosfir, terkadang diartikan sebagai tata surya, terkadang diartikan planet-planet, dan terkadang diartikan sebagai langit. (p. 9).
Penafsiran yang tidak konsisten tentang lafal sama'/samawat ini terjadi karena sejak awal mbah Min sudah tidak percaya dengan langit. Seperti yang saya utarakan di depan bahwa langit menurut mbah Min adalah “longan” yang meliputi setiap planet yang ada. Dimana ada planet maka di situ juga ada langit. Sehingga untuk mendukung argumennya ini ia memaksakan tafsiran sama'/samawat dengan berbagai arti.
Lebih lanjut mbah Min juga tidak percaya akan adanya langit lapis tujuh. Kalau memang langit lapis tujuh itu ada, mengapa sampai sekarang belum juga ditemukan? Begitu argumen yang ia utarakan.
Yang lebih lucu lagi adalah ketika mbah Min mengartikan Q.S. Nuh (71):16 . tampak sekali bahwa mbah Min ini memang tidak paham tata bahasa Arab, sehingga ia keliru dalam mengartikan lafal fihinna. Kata fihinna adalah dlomir yang kembali kepada samawat, tetapi oleh mbah Min diartikan sebagai bulan-bulan. Perhatikan uraian ngawurnya berikut:
“Kalau kita perhatikan pada Surat Nuh (71) ayat 15 dinyatakan bahwa Allah telah menciptakan tujuh Samawat itu bertingkat-tingkat. Memang keadaan planet-planet itu bertingkat-tingkat menurut garis orbitnya masing-masing. Kemudian pada ayat 16 dinyatakan DIA jadikan BULAN-BULAN padanya (fiihinna) berarti Bulannya banyak, padahal Bulan yang ada di Bumi ini hanyalah satu. Maka Bulan yang lain adalah Bulan dari masing-masing planet itu, karena tidak mungkin langit memiliki Bulan atau dikitari Bulan, karena itu yang dikitari Bulan pastilah planet-planet itu” (p.11).

Mbah Min juga mempertanyakan tafsiran Q.S. An-Naba' (78): 12 bahwa Alloh menciptakan tujuh yang kokoh. Menurut mbah Min, jelaslah sudah bahwa yang dimaksud tujuh yang kokoh bukanlah langit, melainkan planet seperti bumi ini. Sedangkan langit tidak mungkin kokoh.
Padahal al-Qur'an sendiri menjelaskan bahwa Alloh menciptakan langit tanpa tiang. Perhatikan ayat berikut:

“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik”. (Q.S. Luqman (31): 10).

***

Pembahasan berikutnya yang dilakukan oleh mbah Min adalah tentang dabbah. Menurut mbah Min penafsiran dabbah dengan binatang melata adalah salah. Menurutnya dabbah tidak hanya sekedar binatang, tetapi juga manusia. Dia mempertanyakan penerjemahan yang dilakukan oleh Departemen Agama pada surat asy-Syuro (42): 29 sebagai berikut:

“Dan diantara Ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan)Nya ialah menciptakan langit dan Bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang DIA sebarkan pada keduanya. Dan DIA maha kuasa mengumpulkan apabila dikehendakiNYA.”

Menurut mbah Min ayat tesebut sebaiknya berarti:

“Dan dari Ayat-ayatNya ialah penciptaan Samawat (planet-planet) dan Bumi, serta yang DIA kembang biakkan pada keduanya (Samawat dan Bumi) dari dabbah (makhluk berjiwa) dan DIA atas pengumpulan ketika DIA kehendaki adalah menentukan.” (p. 14).

Memang kalau kita baca tafsir Ibnu Katsir, maka arti dabbah itu meliputi malaikat, manusia, jin, dan hewan-hewan. Dalam hal ini mbah Min ada benarnya, tetapi tidak mutlak. Karena ia masih beranggapan bahwa bagaimana mungkin dabbah bisa hidup di langit? Kalau dabbah hidup di planet pasti bisa. Padahal ayat tersebut menyebutkan langit dan bumi. Jadi tidak hanya menyebutkan langit saja. Sudah pasti yang hidup di langit adalah para malaikat dan yang hidup di bumi adalah manusia, jin dan binatang melata.

Penutup
Demikianlah, kalau dari awal sudah salah dalam memaknai, maka sampai kapanpun akan salah. Atau memang sengaja diarahkan ke arah yang salah? Wallahu a'lam.

Maraji' : Gurugo.blogspot.com

Mengenal Ajaran Jil Dan Kekonyolanya





















Jakarta (voa-islam.com)http://apresiasi-rofiuddin.blogspot.com/  Banyak pihak yang belum memahami tentang sepak terjang JIL yang gemar mengobok-obok kedamaian umat Islam di Indonesia pada khususnya. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, kaum Yahudi dengan Freemasonry mendukung JIL yang juga sesungguhnya didanai oleh Asia Foundation yang disupport oleh CIA, badan intelejen AS.

Apa itu Islam liberal dan Mengapa disebut Islam Liberal?
“Islam liberal” sejatinya pembangkangan diri dan pemikiran melalui gerakan, yayasan, kantor berita, gerakan politik terhadap islam ala Nabi Muhammad SAW. Pemikiran Islam (klaim mereka) menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. Tujuan JIL adalah menyebarkan gagasan Islam Liberal seluas-luasnya kepada masyarakat dengan dukungan Yahudi Internasional yang bercokol kuat di Indonesia dan dukungan pemerintah AS melalui Asia Foundation yang disokong oleh CIA dan Imperialisme Barat dan kini menguasai Universitas Paramadina dan UIN Syarif hidayatullah Jakarta.
JIL lebih mirip kepanjangan imperalisme Barat atas dunia Islam yang dicarikan bentuk pembenarannya dari khazanah Islam. Dari segi politis, ada benang merah dengan CIA.  JIL yang resmi hadir sekitar Maret 2001— impact penting yang timbul dari lahirnya gudang pemikiran itu adalah lahirnya atmosfir ‘ndableg alias konyol’ yang oleh kebanyakan pengikutnya disebut dengan istilah “kekritisan berfikir”. Mereka begitu semangat ‘mengkritisi’ Al-Qur’an, menolak beberapa nash hadits-hadish shahih, serta menuduh para ulama’ sebagai kelompok konservatif. Dilain pihak, mereka bahkan teramat sibuk bergelut dengan referensi-referensi liberal. Bacaan-bacaan wajib mereka, kini Tahrirul Mar’ah milik Qasim Amin, The Spirit of Islam-nya Amir Ali, serta Al Islam wa Ushul Al Hukmi yang sesungguhnya hanya jiplakan dari tulisan orientalis Inggris Thomas W. Arnold.
Nama-nama semisal, Sayid Ahmad Khand, Arkeun, Ali Abdul Razik, Charles Kuzman, Fatimah Marnissi, Nasir Hamid Abu Zaid dan Fadzlurrahman seolah-olah “kitab suci” baru yang kini melekat di otak mereka. Di saat yang sama, mereka mulai tampak malas menelaah Al-Qur’an, bahkan boleh jadi mules (muak, red) jika mendengar dalil-dalil dari hadits.
Yang jelas, mereka begitu percaya diri dengan identitas itu, dan begitu bangga disebut liberal. Karena dukungan AS, lembaga Islam dikuasai pemikiran liberal, baik Kementerian Agama, Universitas Negeri Islam (UIN), dan sampai tokoh-tokoh politik dan cendekiawan yang dilabelkan pada tokoh Islam Liberal.
Kalau kita mengamati dengan seksama tentang agenda-agenda JIL, maka kita akan menemukan korelasi antara imperialisme barat dan agenda JIL. Luthfi Asy-Syaukanie, salah satu motor JIL pernah menyebut dengan jujur empat agenda utama lahirnya Islam Liberal. Pertama, agenda politik, Kedua, agenda toleransi agama, Ketiga, agenda emansipasi wanita, dan Keempat, agenda kebebasan berekpresi.

Dalam agenda politik, misalnya, kaum muslimin “diarahkan” oleh JIL untuk mempercayai sekularisme, dan menolak sistem pemerintahan Islam (Khilafah). Dalam agenda plurarisme, kelompok ini menyeru bahwa semua agama adalah benar, tidak boleh ada truth claim. Agenda emansipasi wanita, seperti menyamaratakan secara absolut peran atau hak pria dan wanita tanpa kecuali, dan agenda kebebasan berekspresi, seperti hak untuk tidak beragama, tak jauh bedanya dengan agenda politik di atas. Semua ide-ide ini pada ujung-ujungnya, pada muaranya, kembali kepada ideologi dan kepentingan imperialis.

Adian Husaini dan Nuim Hidayat menandaskan, Karena itu, sulit sekali-untuk untuk tidak mengatakan --minimal mustahil-- mencari akar pemikiran-pemikiran tersebut dari Islam itu sendiri secara murni, kecuali setelah melalui pemerkosaan teks-teks Al-Qur’an dan As-Sunnah. Misalnya teologi pluralisme yang menganggap semua agama benar, sebenarnya berasal dari hasil Konsili Vatikan II 1963-1965) yang merevisi prinsip extra ecclesium nulla salus (di luar Katolik tak ada keselamatan) menjadi teologi inklusif-pluralis, yang menyatakan keselamatan dimungkinkan ada di luar Katolik. (Islam Liberal: "Sejarah, Konsepsi dan Penyimpangannya", Adian Husaini dan Nuim Hidayat).

Selain itu, dari kerangka ideologi, ide-ide JIL sendiri, dapatlah kiranya dinyatakan sebagai ide-ide kapitalisme. Luthfi Asy-Syaukanie dalam bukunya Wajah Liberal Islam di Indonesia (2002) telah berhasil menyajikan deskripsi dan peta ide-ide JIL. Jika dikritisi, kesimpulannya adalah di sana ada banyak contekan sempurna terhadap ideologi kapitalisme.
Tentu ada kreativitas dan modifikasi. Khususnya pencarian ayat atau hadits atau preseden sejarah yang kemudian ditafsirkan secara paksa agar cocok dengan kapitalisme. Ide-ide besar kapitalisme itu antara lain; (1) sekularisme, (2) demokrasi, dan (3) kebebasan. Dukungan kepada sekularisme --pengalaman partikular Barat-- nampak begitu getolnya mereka melakukan penolakan terhadap bentuk sistem pemerintahan Islam (khilafah), dan penolakan yang begitu bersemangat terhadap syariat Islam. Tetapi mereka menerima begitu saja semua gagasan demokrasi tanpa ada nalar kritis. Istilahnya, mereka cepat-cepat ‘melek’ (terbelalak) jika mengkritisi Islam, tapi buru-buru buta (pura-pura tak melihat) jika sumber-sumber itu datangnya dari Barat.

Kentalnya ide-ide pokok kapitalisme dan berbagai derivatnya ini, masih ditambah dengan suatu metode berpikir yang kapitalistik pula, yaitu menjadikan ideologi kapitalisme sebagai standar pemikiran. Meminjam bahasa Al Jawi, ide-ide kapitalisme diterima lebih dulu secara taken for granted dan dianggap benar secara absolut, tanpa pemberian peluang untuk didebat (ghair qabli li an-niqasy) dan tanpa ada kesempatan untuk diubah (ghair qabli li at-taghyir). Lalu ide-ide kapitalisme itu dijadikan cara pandang (dan hakim!) untuk menilai dan mengadili Islam.

JIL, Asia Foundation dan CIA

The Asia Foundation adalah LSM raksasa yang markas besarnya di San Fransisco. LSM ini memiliki 17 kantor cabang di seluruh Asia, termasuk Washington, D.C. Tahun 2003 kemarin, The Asia Foundation mengucurkan bantuan sebesar 44 juta USD dan mendistribusikan 750 ribu buku dan materi pendidikan yang nilainya berkisar mencapai 28 juta USD di seluruh wilayah Asia.

Sebagaimana dikutip situs resmi pemerintah AS, http://usinfo.state.gov, Oktober lalu –beberapa hari menjelang Pemilu di Afghan-- lalu, The Asia Foundation, membikin program The Mobile Theater Project, sebuah bioskop keliling. Dengan alasan pendidikan demokrasi --atau lebih tepat kampanye pemaksaan demokrasi— mereka berkeliling kampung untuk memutar film dengan ditonton sekitar 430.000 pemirsa.

Di Indonesia, dalam Pemilu 2004 kemarin, seperti diakuinya di situs http://www.asiafoundation.org/, lembaga ini ikut mendanai JPPR (JPPR atau Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat) dengan mempekerjakan 141.000 relawan dan melakukan training kurang lebih 70 ribu orang. Mereka bisa memanfaatkan radio dengan asumsi 25 juta pendengar, memanfaatkan TV yang ditonton 74 juta pemirsa, juga menguasai media cetak dengan perkiraan dibaca 3 juta orang.

Di Indonesia, keberadaanya sudah ada sejak tahun 1970. Mereka berdiri di balik program-program bernama; training keagamaan, studi gender, HAM dalam Islam, civic education di lembaga-lembaga Islam, pusat pembelaan perempuan untuk Islam (Muslim Women Advocacy), dan isu-isu pluralisme, paralalel dengan program-program JIL.

Jika dilihat berbagai agenda dan kegiatannya selama ini, ada korelasi antara agenda-agenda JIL dengan LSM Raksasa bernama The Asia Foundation.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa kehidupan kelompok ini amat tergantung pada kucuran dana dari The Asia Foundation. Dan karena donor yang amat besar dari LSM ini, maka JIL dalam waktu yang relatif singkat sudah bisa mendirikan Radio satelit pertama di Indonesia, Radio 68H, yang siarannya direlai puluhan pemancar radio di Indonesia, mampu membeli satu halaman penuh koran Jawa Pos, bahkan mampu menayangkan iklan-iklan di televisi dengan durasi yang panjang, semisal iklan “Islam Warna-Warni” yang akhirnya berhenti tayang karena somasi MMI, bahkkan bisa menghidupi kegiata-kegiatan mereka yang membutuhkan biaya besar. Jika ditilik dari sponsor utama (sebut The Asia Foundation) yang selama ini menjadi ‘penyangga’ utama pendanaan JIL, bisa ditarik kesimpulan bahwa The Asia Foundation adalah jaringan ‘induk’nya. Dengan bahasa lain, JIL adalah ‘karyawan’ The Asia Foundation yang bertugas di lapangan, untuk menjalankan proyek-proyek besarnya.

The Asia Foundation, yayasan ini ditengarai banyak mendanai kegiatan-kegiatan dalam rangka penyebaran paham kapitalisme dan sejenisnya. Yang paling nampak mencolok keterlibatan The Asia Foundation bagaimana dia mem-back up Tim Pengarasutaman Gender (PUG) bentukan Departemen Agama, yang kemudian berhasil menyusun draf Kompilasi Hukum Islam yang isinya kemudian menimbulkan kontroversial.

Merujuk sebuah makalah yang berjudul CIA's Hidden History in the Philippines, Roland G. Simbulan, yang disampaikan pada ceramahnya di University of The Philipinnes (18 Agustus, 2000), mengutip dari tulisan seorang sosiolog Amerika, James Petras, yang dimuat dalam Journal of Contemporary Asia, menggambarkan, bagaimana LSM yang besar bisa dikendalikan --jika tidak didukung oleh pemerintah Amerika-- atau perusahaan raksasa yang dikendalikan agen-agen rahasia atau CIA yang ingin memanfaatkannya sebagai sarana penyamaran. Yang dimaksud Petras, hal itu untuk mengelabuhi dan menghindari konflik yang diakibatkan benturan langsung terhadap struktur resmi pemerintahan. Serta menghindari class analysis adanya penjajahan dan eksploitasi kapitalis.

Roland G. Simbulan juga menjelaskan bahwa yang memainkan peran CIA yang paling menonjol di Manila adalah The Asia Foundation. Pernyataan ini dinilai cukup valid, karena didasari oleh pernyataan seorang anggota Departemen Birokrasi Amerika, William Blum. Dalam sebuah resensi buku yang berjudul Asia Foundation is the principal CIA front, dalam salah satu buku seorang jurnalis investigasi majalah Times, Raymond Bonner, yang berjudul: Waltzing with a Dictator: The Marcoses and the Making of American Policy, menyatakan bahwa “Asia Foundation adalah bentukan dan kedok CIA!”. Ini semakin diperkuat oleh interview Roland G. Simbulan dengan seorang mantan mata-mata CIA yang beroperasi di Philipina pada tahun 1996, dimana ia aktif menggunakan yayasan ini (The Asia Foundation) sebagai agen. Bahkan secara terang-terangan pula diungkapkan dalam laporan tahunan The Asia Foundation, tahun1985, yang menyebutkan di dalamnya pernyataan Victor Marchetti, salah satu dari pimpinan deputy CIA, bahwa “Asia Foundation didirikan oleh CIA dan sampai 1967 mendapat subsidi darinya.” (Asia Foundation Annual Report, 1985). Jelas, bahwa LSM The Asia Foundation memang bentukan CIA, didirikan sebagai alat, dan sarana untuk memperluas dan mempermudah proses imperialisme Amerika Serikat terhadap Negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik dengan cara non konfrontatif.

Dari sini pulahlah, boleh jadi, JIL --setelah dilihat dari substansi ide yang diusung, serta pertnershipnya-- bahwa sesungguhnya aktifitasnya tidak ada hubungannya dengan Islam, tidak pula ada sangkut-pautnya dengan perbedaan metode penafsiran nash, pembaharuan, pencerahan, atau sifat kritis. Aktifitas JIL, sekali lagi --boleh jadi-- tak lain, merupakan kemungkinan aktivitas intelejen asing yang hendak menancapkan kuku-kuku imperialismenya di bumi umat Islam, umumnya dan Indonesia, pada khususnya. Benarkah demikian? Wallahu a’lam.


Maraji' : dayilmu.blogspot.com